selamat datang di Blogs saya

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blogs Saya

Kamis, 10 Juli 2008

inovasi beton ringan

BAB I
PENDAHULUAN

A . Latar Belakang Masalah
Makin meningkatnya kebutuhan perumahan saat ini menyebabkan kebutuhan akan bahan bangunan semakin meningkat pula. Seperti kita ketahui bersama, bahan yang digunakan untuk bangunan terdiri dari bahan-bahan atap, dinding dan lantai. Salah satu masalah dilapangan saat ini yang perlu segera diatasi adalah masalah kebutuhan batu bata sebagai bahan dinding perumahan dan efek kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Sebagaimana diketahui, kebutuhan masyarakat akan perumahan tidak pernah surut bahkan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat terlihat dari kenyataan bahwa perumahan yang dibuat selalu laku terjual.
Adapun salah satu permasalahan utama dalam menyediakan rumah di Indonesia adalah tingginya biaya konstruksi bangunan dan lahan. Selama ini berbagai penelitian sudah dilakukan tetapi masih belum ditemukan alternatif teknik konstruksi yang effisien serta penyediaan bahan bangunan dalam jumlah besar dan ekonomis. Hal tersebut dapat memberikan suatu alternatif untuk memanfaatkan limbah-limbah industri yang dibiarkan begitu saja. Limbah industri untuk bahan campuran beton ternyata mampu meningkatkan daya kuat tekan (Triwulan dkk, 2004). Bahan tambah tersebut dapat berupa abu terbang (fly ash), pozolan, abu sekam padi (rice husk ash), abu ampas tebu (bagase furnace), dan jerami padi (batang padi pasca panen).
Pozolan adalah bahan alam atau buatan yang sebagian besar terdiri dari unsur silikat dan atau aluminat yang reaktif. Pozolan sendiri tidak mempunyai sifat semen, akan tetapi dalam keadaan halus (lolos ayakan 0,21 mm) bereaksi dengan air dan kapur pada suhu normal (24-27o C) menjadi suatu masa padat yang tidak larut dalam air.
Sedangkan abu terbang (fly ash) dihasilkan dari sisa pembakaran batu bara yang merupakan sumber energi dalam proses industri, dihancurkan terlebih dahulu sebelum proses pembakaran. Serbuk batu bara dimasukkan kedalam
tungku pembakaran, yang kemudian mengalami perubahan fisik dan kimianya. Adapun abu sekam padi (rice husk ash) dihasilkan dari pembakaran sekam padi yang biasa dimanfaatkan untuk pembakaran untuk pembakaran bata merah atau genteng . Rahman Sudiyo (2008) menyatakan bahwa: ’’Sekam padi setelah dipurifikasi memiliki kandungan silika hingga 95%, sedangkan abu terbang memiliki kandungan 90%.”
Abu ampas tebu yang merupakan abu sisa pembakaran ampas tebu (bagase) sebagai bahan tambahan dalam mortar yang banyak memiliki kandungan senyawa silikat (SiO2) yang juga merupakan bahan baku utama dari semen biasa (portland), pemanfaatan abu ampas tebu sebagai bahan tambah pembuatan paving block dapat meningkatkan kuat tekan paving block (Indriyanto 2001: 43).
Untuk mencegah kerusakan lahan akibat pengambilan tanah yang berlebihan yang digunakan untuk pembuatan batu bata maka perlu dicari alternatif bahan lain. Salah satu alternatif yang akan digunakan untuk mengatasi masalah diatas adalah dengan batako tidak berlubang dengan bahan tambah jerami padi (batang padi setelah pasca panen). Dengan optimalisasi pemanfaatan limbah pertanian yang berupa jerami padi ini diharapkan akan mengurangi limbah yang mencemari lingkungan dan dapat mengurangi kerusakan lahan pertanian.
Pertanaman padi tidak hanya menghasilkan padi (gabah) tetapi juga jerami. Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang cukup besar jumlahnya dan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Produksi jerami padi bervariasi yaitu dapat mencapai 12-15 ton setiap hektar pada masa panen, atau 4-5 ton bahan kering tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman yang digunakan. Bila produksi padi dilakukan tiga kali setiap tahun, berarti jumlah gabah maupun jerami yang dihasilkan menjadi tiga kali lipat.
Ketersediaan jerami sebanyak ini biasanya digunakan untuk pakan ternak seperti sapi atau kerbau. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, para petani memanfaatkan jerami untuk pakan ternak, seperti sapi potong, sapi perah, maupun kerbau. Jerami padi juga diolah untuk pupuk fermentasi, tetapi hal ini jarang sekali dilakukan di jaman modern ini. Biasanya tumpukan padi yang melimpah jumlahnya oleh para petani hanya dibakar saja,
karena mengingat lokasi persawahan harus segera dipersiapkan untuk segera diolah kembali.
Jerami juga merupakan salah satu tanaman yang mengandung serat dan telah digunakan produksi pulp dan kertas. Begitu juga pemanfaatan jerami sebagai bahan bangunan, semisal digunakan sebagai bahan penutup atap pada tempat peristirahatan atau cottage. Pemanfaatan jerami sebagai bahan bangunan dapat mengurangi dua pertiga jumlah batu bata yang dipakai dalam membangun dinding eksterior. Hal tersebut dibuktikan dengan pemanfataan jerami didaerah yang beriklim dingin (timur laut-cina), tumpukan jerami dipakai sebagai bahan dinding eksterior bangunan. Tumpukan jerami ini kemudian diplester kedua sisi. menghasilkan dinding setebal 45-60 cm yang kelihatannya mirip dengan dinding bata jemuran (adobe) atau batu, dengan demikian pemanfaatan jerami padi akan mengurangi polusi dan pemakaian tanah liat yang langka. Rumah-rumah yang dibangun dengan program tersebut sejauh ini mampu bertahan terhadap gempa karena dinding jerami yang ringan dan lentur ini mampu menyerap goncangan gempa (alambina-construction intelligence, htm, 2005).
Untuk menambah kekakuan pada cetakan jerami yang digunakan sebagai bahan tambah batako tidak berlubang, dapat ditambah dengan lem kayu yang banyak terdapat di toko-toko bangunan atau lem buatan yang dapat dibuat sendiri, seperti lem yang dibuat dari tepung tapioka atau pati kanji. Penggunaan lem kayu yang digunakan untuk menambah kekakuan jerami padi sehingga diharapkan dapat menambah kuat tekan pada pembuatan batako tidak berlubang.
Alasan lain penggunaan bahan jerami untuk bahan campuran beton ringan adalah menciptakan bangunan yang ramah lingkungan (Eco-Architecture) dengan sentuhan teknologi baru. Dibandingkan dengan batako biasa, batako dengan penambahan jerami padi ini dimungkinkan mempunyai berat yang lebih ringan, sehingga dapat digunakan pada daerah rawan gempa. Perlu diingat fakta menunjukkan bahwa bangunan adalah pengguna energi terbesar mulai dari konstruksi, bahan bangunan, saat bangunan beroperasi, perawatan hingga bangunan dihancurkan. Apabila dilakukan lifecycle analysis sebuah bangunan akan terlihat berbagai dampaknya terhadap lingkungan dan dapat disimpulkan biaya keseluruhan dari arsitektur yang tidak berkelanjutan adalah jauh lebih tinggi dari yang berkelanjutan (suistainable). Sehingga dengan meyakini Eco-Architecture ini akan menghemat biaya dalam jangka panjang.
Dengan melihat permasalahan di atas, maka dalam penelitian ini akan mengembangkan penelitian mengenai penambahan jerami sebagai bahan tambah beton ringan yang digunakan sebagai konstruksi dinding. Oleh karena itu penulis mengambil judul ”Analisis Penambahan Jerami Padi Pada Beton Ringan Ditinjau Dari Kualitas Kuat Tekan ( BATAJER )”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang timbul berkaitan dengan penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Kerusakan lahan pertanian yang semakin luas akibat pembuatan batu bata, sehingga dengan pembuatan batako tidak berlubang sebagai alternatif pengganti batu bata dapat mengurangi kerusakan lahan pertanian.
2. Jumlah jerami padi yang melimpah setelah pasca panen padi belum termanfaatkan, sehingga jerami padi hanya dinilai sebagai limbah pertanian saja.
3. Pemanfaatan jerami di Indonesia umumnya hanya digunakan sebagai pakan ternak saja, pupuk lokasi, media jamur dan hanya sebagian kecil termanfaatkan, sehingga termanfaatkannya jerami padi sebagai bahan tambah pembuatan batako tidak berlubang dapat termanfaatkan sebagai bahan bangunan.
4. Belum diketahui prosentase yang tepat pada penggunaan jerami padi sebagai bahan tambah batako tidak berlubang.
5. Belum diketahui kuat tekan batako tidak berlubang setelah ditambah dengan bahan tambah yaitu jerami padi.
6. Belum diketahui seberapa besar prosentase daya serap air (absorbsi) pada batako tidak berlubang.
7. Dimungkinkan berat batako tidak berlubang dengan bahan tambah jerami padi lebih ringan dari berat batako biasa.
8. Dimungkinkan penambahan jerami padi dapat meningkatkan kuat tekan batako tidak berlubang, sehingga dapat menekan penggunaan bahan pembuatan batako tidak berlubang (semen dan pasir).

C. Pembatasan Masalah
Ada beberapa permasalahan yang muncul dalam penelitian ini, agar permasalahan yang diteliti menjadi lebih jelas, maka perlu adanya pembatasan masalah. Adapun permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
1. Ada pengaruh penambahan jerami padi terhadap kuat tekan batako tidak berlubang.
2. Daya resapan air pada batako tidak berlubang.
3. Prosentase optimal penambahan jerami padi untuk mencapai kuat tekan yang optimal pada batako tidak berlubang.

D. Perumusan Masalah
Dalam penelitian perumusan masalah sangat diperlukan, agar suatu penelitian dapat terarah dengan baik. Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Adakah pengaruh penambahan jerami padi terhadap kuat tekan batako tidak berlubang?
2. Berapakah besarnya prosentase daya resapan air pada batako tidak berlubang?
3. Berapakah penambahan jerami padi dengan jumlah yang tepat untuk mencapai kuat tekan optimal pada batako tidak berlubang?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penambahan jerami padi terhadap kuat tekan batako tidak berlubang.
2. Untuk mengetahui seberapa besar prosentase daya resapan air pada batako tidak berlubang.
3. Untuk mengetahui penambahan jerami padi dengan jumlah yang tepat untuk mencapai kuat tekan optimal pada batako tidak berlubang.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini begitu penting karena dapat menghasilkan informasi yang dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan penelitian baik secara teoritis maupun secara praktis.
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
a. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang ilmu bahan bangunan, pengaruh jerami padi sebagai bahan tambah terhadap kuat tekan batako tidak berlubang.
b. Untuk memanfaatkan jerami padi sebagai alternatif bahan bangunan khususnya sebagai konstruksi dinding.
c. Untuk mengurangi efek kerusakan lingkungan persawahan yang diakibatkan dari pembuatan batu bata.
d. Sebagai pembanding apabila ada penelitian sejenis sebagai penelitian pengembangan.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan informasi tentang jerami padi sebagai bahan tambahan dalam pengembangan pembuatan batako tidak berlubang.
b. Dengan diadakan penelitian ini diharapkan mendapatkan formula yang tepat, sehingga menghasilkan batako tidak berlubang dengan kuat tekan optimal.

Tidak ada komentar: